ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI dan KEMISKINAN

Ketika kita melihat berbagai perpustakaan di semua perguruan kita akan mendapati mahasiswa asik dengan PR yang diberikan dosennya.Tetapi dalam benak saya syukur masih mau mahasiswa ke perpustakaan walupun mengerjakan tugas- tugas kuliah pada prinsipnya juga membaca dengan melihat jawaban untuk soal.

Memang dalam tradisi negara kita ini membaca bukanlah kebutuhan. Membaca dipahami sebagai sesuatu pekerjaan yang berat. Mengapa demikian? Pergi ke perpustakaan masih bersifat temporer. Mahasiswa kebanyakan mengurus kartu perpustakaannya karena memang ingin mengerjakan tugas – tugas perkuliahan. Fenomena ini sering kita jumpai di berbagai perguruan tinggi. Belum lagi perpustakaan yang belum lengkap fasilitas bukunya. Standard perpustakaan tidak ada bagi perguruan tinggi. Padahal jika kita berhitung, berapalah dana yang harus dialokasikan dari uang kuliah mahasiswa untuk membangun perpustakaan yang memilki kualifikasi perpustakaan yang lengkap.

Bagaimana mempersiapkan sebuah generasi yang padat ilmu pengetahuan tidak akan pernah lepas dari peran dan fungsi perpustakaan. Di tengah kancah persaingan global yang menuntut kompetensi. Kompetensi lahir dari proses membaca. Dengan membaca ilmu pengetahuan mengalami transformasi dari buku ke otak manusia. Membudayakan membaca buku di perpustakaan perlu gerakan kolektif dari semua pihak. Kita akan menjadi bangsa yang tertinggal apabila tidak menguasai ilmu pengetahuan, khususnya pada generasi muda. Memang pola pendidikan kita tidak mengarahkan mahasiswa untuk membaca. Target kelulusan seringkali membelenggu kita. Kita lebih bangga meluluskan siswa banyak- banyak tanpa mengerti dan paham apa itu metodologi ilmu pengetahuan yang kelak berguna untuk dirinya.fase keemasan di era globalisasi yang penuh dengan tantangan. Masyarakat terdidik jika tercipta di suatu negara akan dengan sendirinya mendorong proses demokratisasi. Pola partisipatif pun akan berkembang. Pada akhirnya semua kebijakan negara selalu melihat masyarakat rasional, akibatnya kebijakan publik yang lahir pun tidak lagi sembarangan karena masyarakat kritis.Saat ini, kita hidup di era Information Communication Technology (ICT), ditandai; (1) tersedianya PC (Personal Computer) yang memadai di setiap rumah tangga, dan sekaligus tingkat penduduk yang secara aktif menggunakan internet sebesar 0,005; (2) tradisi nonton televisi yang memadai dengan jumlah pesawat televisi yang tersedia dirata-rata rumah sebesar 18,3; (3) fasilitas saluran telepon sebagai sarana paling efektif untuk melaksanakan program konvergensi sebesar 2,1. Tradisi nonton televisi oleh anak di kota-kota besar Indonesia cukup tinggi, yakni 5 jam atau 300 menit/hari. Jauh dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk membaca, yakni hanya 43 menit/hari. Menurut John Holt (2004) dalam bukunya “Long Life Education” menyatakan bahwa waktu ideal untuk membaca buku bagi setiap orang adalah 1800 menit (30 jam) perminggu atau 257 menit perhari. Penjualan buku berbanding kaset 1:6. Memperhatikan kondisi tersebut diatas, ada yang menyimpulkan bahwa kehadiran media ICT sebagai prediktor atau penyebab utama rendahnya minat membaca anak bangsa ini. Benarkah demikian?

BAPPENAS (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu sangat penting supaya tidak terjadi kemiskinan beberapa upaya untuk menghindari kemiskinan adalah memperkaya ilmu pengetahuan dengan cara membaca, bisa koran, buku dan lainnya. setelah memperkaya ilmu pengetahuan kita bisa menggunakan teknologi sebagai alat penopang dalam usaha kita

sumber referensi : http://www.analisadaily.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: