Membaca Kisah Klan Otori-

Musashi, dan Taiko mungkin menjadi rujukan setiap orang manakala ingin membaca kisah Samurai Jepang. Karya Eiji Yoshikawa tersebut memang tidak bisa dipungkiri telah menjadi raja untuk karya-karya fiksi yang mengambil latar sejarah Jepang dalam kaitannya dengan Samurai dan Shogun. Namun siapa sangka jika Lian Hearn mampu menggebrak genre karya fiksi Samurai tersebut dengan karya fenomenalnya: Kisah Klan Otori?

Lian Hearn, penulis Australia kelahiran Inggris dengan nama asli Gillian Rubinstein menghadirkan warna baru dalam kisah sejarah Jepang dan Samurai lewat karyanya Kisah Klan Otori (Tales Of The Otori). Kisah Klan Otori adalah sebuah karya trilogi ditambah satu sequel dan satu prequel. Buku pertama berjudul Across The Nightingale Floor, buku kedua adalah Grass For His Pillow, dan buku ketiga adalah Brilliance Of The Moon. Sequel-nya adalah The Harsh Cry Of The Heron, dan prequel-nya adalah Heaven’s Net Is Wide. Empat dari lima buku telah diterbitkan dan telah beredar dalam edisi bahasa Indonesia, sedangkan prequel-nya akan diterbitkan pada akhir 2007.

Kisah berawal dari sebuah pembantaian massal dilakukan oleh Iida Sadamu, pemimpin klan Tohan –klan yang paling berkuasa di Tiga Negara– terhadap semua penduduk Mino, sebuah desa terpencil hanya karena penduduk Mino adalah penganut ajaran Hidden. Hidden adalah sebuah kelompok masyarakat yang menganut paham keagamaan yang mempercayai adanya Tuhan tak kasat mata, menentang pembunuhan dan bunuh diri. Hal ini sangat berbeda dengan kepercayaan orang-orang dan para ksatria pada jaman itu. Semua penduduk Mino tewas kecuali seorang anak remaja yang berhasil lolos karena tanpa disadarinya ia dapat membelah tubuhnya menjadi dua. Nama anak remaja itu adalah Tomasu. Dalam sebuah pengejaran, Tomasu tiba-tiba diselamatkan oleh Lord Shigeru, pemimpin Klan Otori, musuh besar Klan Tohan, sampai akhirnya Tomasu diangkat anak oleh Lord Shigeru karena kemiripannya dengan adik Shigeru, Otori Takeshi yang telah dibunuh oleh Klan Tohan. Tomasu berganti nama menjadi Takeo.

Takeo ternyata adalah keturunan dari Tribe, suku pembunuh yang memiliki kemampuan bela diri dan supranatural luar biasa, dan Takeo mewarisi kemampuan luar biasa itu dalam dirinya. Pada suatu malam, kemampuan itu terbukti ketika Shigeru diselamatkan oleh Takeo yang dengan indera pendengarannya yang sangat tajam memperingatkan Shigeru akan adanya seorang pembunuh bayaran yang tengah mengintainya. Pembunuh bayaran tersebut ternyata berasal dari suku Tribe. Menyadari kemampuan luar biasa Takeo, Shigeru membawanya ke Hagi untuk dilatih dan dipersiapkan menjadi pewaris Klan Otori serta sebuah rencana lain yang telah Shigeru persiapkan untuknya. Pengangkatan anak dan pewarisan Klan Otori kepada Takeo ditentang oleh petinggi klan Otori, termasuk yang paling keras menentang adalah Otori Shoici dan Otori Masahiro, paman Shigeru.

Shigeru meminta Takeo untuk membunuh Iida diam-diam di kastilnya di Inuyama, karena hanya Takeo-lah yang bisa melintasi Nightingale Floor yang dipasang di sekitar kediaman Iida dengan kemampuan Tribe yang dimilikinya. Nightingale Floor adalah lantai yang bisa berbunyi dan bernyanyi nyaring bila seseorang berjalan di atasnya. Dan Takeo telah membuktikan kemampuannya saat ia mampu melintasi Nightingale Floor tanpa membuatnya bersuara di kediaman Shigeru.

Di satu sisi, Iida Sadamu juga telah mempersiapkan rencananya sendiri untuk melenyapkan Shigeru dan klan Otori dari peta Tiga Negara. Dengan bekerjasama dengan kedua paman Shigeru yang licik, Iida menjodohkan Shigeru dengan Shirakawa Kaede, putri sulung dari Lord Shirakawa, pemimpin klan Shirakawa yang dijadikan tawanannya di kastil Noguchi. Kisah menjadi semakin pelik ketika pada suatu pertemuan, Takeo dan Kaede saling jatuh cinta. Sementara, Shigeru sebenarnya telah menjalin hubungan asmara dengan Lady Maruyama Naomi, pemimpin klan Maruyama.

Keadaan bertambah rumit dengan keterlibatan suku pembunuh Tribe yang mengetahui bakat dan kemampuan Takeo yang diwarisinya. Tribe hendak mengambil Takeo untuk dididik menjadi seorang pembunuh rahasia. Tribe tidak menghendaki seorang pun lepas dari bayang-bayang aturan suku rahasia yang telah dianut turun temurun. Sementara di satu sisi, kepentingan Shigeru atas Takeo sangatlah besar untuk membawa kedamaian di Tiga Negara.

Tarik menarik kepentingan antara Shigeru, Tribe dan Iida itulah kurang lebih isi dari buku pertama, Across The Nightingale Floor. Meskipun tokoh sentral adalah Tomasu –yang beralih nama menjadi Takeo– namun karakter Shigeru sangat kuat dan mendominasi. Meski pada akhirnya Shigeru meninggal dunia di tangan Iida Sadamu, namun pengaruhnya tidak akan pernah hilang baik pada diri Takeo maupun orang-orang di sekeliling Shigeru. Di sinilah mungkin letak kelebihan dan kekurangan Hearn. Di satu sisi, ia begitu kuat dalam menggambarkan karakter Shigeru, namun di sisi lain, penggambaran karakter Takeo, masih lemah, padahal Takeo-lah yang memegang kelanjutan kisah. Karakter Takeo mulai berkembang pada buku kedua, Grass For His Pillow.

Kisah pasca kematian Otori Shigeru dan Iida Sadamu dan pengaruhnya terhadap peta kekuasaan klan di Tiga Negara, menjadi kelanjutan kisah dalam Grass For His Pillow. Setelah Takeo membalaskan kematian Shigeru, sesuai janjinya kepada Tribe, Takeo memilih untuk mengikuti panggilan hidupnya sebagai seorang Tribe. Takeo meninggalkan Kaede dan meninggalkan statusnya sebagai seorang Otori dan berlatih bersama Tribe untuk meningkatkan kemampuannya. Di satu sisi, setelah kematian Lady Maruyama –pemimpin klan Maruyama– oleh rencana licik Iida, Shirakawa Kaede menjadi pewaris sah klan Maruyama karena ia-lah satu-satunya kerabat terdekat Lady Maruyama.

Melewati rentang waktu bersama Tribe, Takeo akhirnya mengetahui lebih banyak tentang identitas dirinya sendiri, tentang Tribe dan tentang ayah angkatnya, Shigeru yang ternyata menyimpan sebuah catatan rahasia tentang seluk beluk suku pembunuh Tribe. Catatan inilah yang diburu oleh Tribe demi keselamatan dan keamanan suku tersebut. Tribe memerintah Takeo untuk mengambilnya di rumah Shigeru. Lewat pergulatan batin yang begitu dalam, Takeo akhirnya memutuskan untuk lari dari Tribe setelah ia berhasil mengambil catatan Shigeru itu.

Dalam sebuah pelarian, Takeo diselamatkan oleh Jo-An, seorang gelandangan pemeluk ajaran Hidden, ajaran yang mempercayai adanya Tuhan Rahasia yang Satu dan menganggap semua manusia sama di hadapan-Nya. Oleh Jo-An, Takeo dipertemukan oleh seorang perempuan pertapa di gunung yang mengatakan ramalan tentang Takeo bahwa hanya Takeo-lah yang bisa membawa perdamaian di Tiga Negara. Ramalan perempuan suci juga terkait dengan lima peperangan yang harus dilalui Takeo sebelum kedamaian benar-benar terwujud: empat kali peperangan akan berakhir dengan kemenangan dan satu kali berakhir kekalahan; juga ramalan tentang kematian Takeo. Dengan bantuan beberapa orang kepercayaannya, termasuk Jo-An, Takeo akhirnya membangun kekuatan perang di Biara Terayama.

Sementara itu, Kaede berusaha untuk meyakinkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya bahwa dia berhak untuk menjadi pewaris sah klan Maruyama dan ikut berperan dalam dunia para ksatria. Meski mendapat tentangan yang keras dari ayahnya sendiri dan bermacam-macam intrik yang melemahkannya, Kaede berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi keinginannya untuk tidak kalah dari laki-laki. Sambil menunggu Takeo menjemputnya, Kaede belajar untuk menjadi seorang perempuan yang kuat untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin klan.

Di buku ketiga, Brilliance Of The Moon, Takeo mulai menggerakkan pasukan dan kekuatan yang dimilikinya di biara Terayama keluar untuk mengambil hak istrinya Kaede dalam mewarisi wilayah Maruyama, sekaligus untuk mempersiapkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk menyerang Hagi guna mengambil haknya sebagai pewaris klan Otori, memenuhi amanat Otori Shigeru. Kematian Ichiro, guru Takeo yang dibunuh oleh kedua paman Shigeru yang licik, Shoichi dan Masahiro, semakin memperkuat tekadnya untuk merebut Hagi. Berbekal ramalan yang telah didengarnya dari perempuan suci, Takeo bermaksud menjalani “lima peperangan yang akan membayar perdamaian”.

Maruyama yang sebelumnya dipimpin oleh seorang perempuan (Maruyama Naomi) menyambut baik kedatangan Kaede dan pengambilan haknya sebagai pewaris Maruyama. Takeo dan pasukannya akhirnya membangun kekuatan di Kastil Maruyama sebelum melanjutkan rencananya untuk menyerang Hagi, dengan dibantu oleh gerombolan bajak laut yang menghuni pulau Oshima, sebuah pulau yang terletak di dekat Hagi. Bajak laut yang dipimpin oleh keluarga Terada juga mempunyai kebencian yang sama kepada Shoichi dan Masahiro, kedua paman Shigeru yang menguasai Hagi.

Sementara itu, keretakan mulai terjadi di kalangan suku Tribe, suku pembunuh yang memburu Takeo untuk mengambil kembali catatan Shigeru mengenai seluk beluk Tribe yang ada pada Takeo. Keluarga Muto dan Keluarga Kikuta, dua keluarga yang berpengaruh di Tribe, berselisih setelah Muto Yuki, anak perempuan Muto Kenji, ketua keluarga Muto yang juga guru Shigeru dan Takeo, dibunuh oleh Kikuta Kotaro, ketua keluarga Kikuta. Yuki dibunuh setelah ia melahirkan seorang anak laki-laki hasil hubungannya dengan Takeo.

Sebagai buku terakhir dari trilogi Kisah Klan Otori, Brilliance Of The Moon merupakan jawaban dari seluruh teka-teki yang telah muncul sejak dari buku pertamanya, Across The Nightingale Floor. Intrik-intrik mulai terkuak, rahasia-rahasia mulai jelas, teka-teki mulai terjawab, meskipun jawaban-jawaban itu akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan teka-teki yang masih mengambang. Teka-teki dan pertanyaan itulah yang akan terjawab di sequelnya, The Harsh Cry Of The Heron. Yang menarik, penulis sedikit mengambil latar masuknya senjata api ke jepang untuk pertama kalinya. Dikisahkan, perompak yang dipimpin oleh keluarga Terada telah membajak sebuah kapal milik orang kulit putih dan menemukan sepucuk senjata api.

Kemenangan pasukan Takeo atas pasukan Arai Daichi, lewat campur tangan gempa bumi seakan hendak mengukuhkan kemenangan Takeo sebagai keinginan surga, sebagaimana ramalan perempuan suci. Dengan kemenangan itu, klan Otori menjadi penguasa Tiga Negara dan Takeo menyatukan Tiga Negara dalam damai tanpa peperangan.

The Harsh Cry Of The Heron, mengambil latar 16 tahun setelah Lord Otori Takeo dan Kaede mulai memerintah Tiga Negara. Tiga Negara menjadi negeri yang damai, makmur dan sejahtera. Semua rakyat mencintai mereka. Takeo dan Kaede dikaruniai tiga putri yang cantik jelita dan menawan: si sulung Shigeko dan kedua adik kembarnya Maya dan Miki. Namun, hal ini tidak membuat hidup Takeo menjadi lebih tenang. Ia kembali teringat dengan ramalan perempuan suci. Ramalan perempuan suci yang pernah ditemuinya mengatakan bahwa ia akan mati di tangan putra kandungnya sendiri.

Sementara itu, Arai Zenko, putra Arai Daichi, yang oleh Takeo diberi kekuasaan di wilayah Kumamoto, ternyata masih menyimpan dendam kepada Takeo, yang telah mengakibatkan kematian ayahnya, Arai Daichi, yang tidak terhormat: tertembak oleh senjata api. Bersama dengan Hana, istrinya, yang juga adik kandung Kaede, ia mulai membangun kekuatan untuk merongrong kedamaian Tiga Negara. Ia bekerjasama dengan orang asing untuk mendapatkan pasokan senjata api, yang sangat dibatasi penggunaannya oleh Takeo. Zenko juga bersekongkol dengan Lord Kono, putra Lord Fujiwara yang merupakan kerabat Kaisar penguasa Delapan Pulau.

Kemakmuran dan kemajuan Tiga Negara ternyata juga mengundang kecemburuan dan kecurigaan Kaisar dan jendralnya, Lord Saga Hideki. Mereka bermaksud mengambil alih Tiga Negara dengan dalih bahwa kekuasaan Takeo atas Tiga Negara tidak sah. Takeo pun berencana pergi ke Miyako, ibukota kekaisaran untuk meminta restu Kaisar sekaligus melegalkan kekuasaannya atas Tiga Negara.

Di saat yang sama, kehadiran si kembar Maya dan Miki, dianggap kutukan oleh Kaede dan orang-orang yang masih belum menerima keberadaan anak kembar. Kaede sangat mengharapkan kehadiran anak laki-laki, sedang Takeo justru mengharapkan sebaliknya. Takeo mengkawatirkan kemampuan Tribe yang dimiliki oleh Maya dan Miki. Kemampuan keduanya membuat mereka mampu masuk ke dalam dunia lain: dunia bayangan, arwah dan hantu.

Di tempat lain, kebencian dan dendam keluarga Kikuta kepada Takeo tidak kunjung padam. Akio, ketua Kikuta -setelah kematian Kikuta Kotaro di tangan Takeo- bersekutu dengan Arai Zenko untuk menggiring Takeo kepada kematiannya. Hisao, anak laki-laki Takeo dari Yuki yang ada di bawah didikan Akio, dimanfaatkan oleh musuh-musuh Takeo setelah mereka mengetahui rahasia Takeo yang sebenarnya. Hisao ternyata memiliki kemampuan untuk mengendalikan arwah dan orang mati.

Sementara Takeo, Shigeko dan beberapa ksatria tangguh Tiga Negara: Sugita Hiroshi dan Miyoshi Gemba melakukan perjalanan ke ibukota untuk menemui Kaisar; Zenko, Hana dan Akio mulai melakukan aksinya untuk membalas dendam. Tiga Negara di ambang kehancuran. Kedamaian dan kemakmuran yang telah dibangun oleh Takeo dan Kaede berada diujung tanduk. The Harsh Cry of The Heron, sebagai buku terakhir menyambung trilogi Kisah Klan Otori, merupakan konklusi akhir dari seluruh kisah perjalanan Otori Takeo.

Feodalisme

Sekat antara kaum bangsawan dan ksatria dengan rakyat biasa sangat kentara dalam karya Lian Hearn. Baik kaum bangsawan maupun kaum ksatria sangat menjaga jarak dengan kaum gelandangan dan rakyat biasa. Bahkan karakter Takeo pun bukanlah karakter hitam atau putih. Sebaik-baiknya Takeo, ia masih menyimpan pertanyaan di dalam dirinya, mengapa ia harus bergaul dengan Jo-An dan para gelandangan yang lain, meskipun pada sebuah kesempatan, mereka telah membantu Takeo.

Pun jika pada akhirnya, Takeo berusaha mengikis sekat-sekat itu, para bangsawan dan ksatria lain di sekelilingnya merasa bahwa hal itu tidak semestinya dilakukan. Para ksatria selalu merasa risih manakala harus berdekatan dengan para gelandangan, meskipun jelas-jelas para gelandangan itu telah membantu mereka merebut kemenangan dalam sebuah pertempuran.

Tidak hanya sekat antara kaum bangsawan dan ksatria dengan rakyat biasa, tetapi sekat antara laki-laki dan perempuan sangat lebar. Kaum perempuan tidak diperkenankan untuk memegang posisi-posisi penting dalam masyarakat. Hanya klan Maruyama, satu di antara banyak Klan di Tiga Negara yang memuliakan perempuan untuk menjadi pemimpin mereka.

Diskriminasi ini semakin tampak manakala Shirakawa Kaede, harus menjadi pemimpin klan Shirakawa, setelah kematian ayahnya, dan juga mewarisi klan Maruyama setelah kematian Maruyama Naomi, pemimpin klan Maruyama sebelumnya. Ia mendapat tentangan-tentangan dan gunjingan-gunjingan yang melemahkan kedudukannya sebagai pemimpin klan. Kaede harus bekerja keras agar disamakan dengan laki-laki, ia harus bersikap dan bertindak dengan cara laki-laki, berbicara dengan bahasa laki-laki, dan belajar bagaimana seorang laki-laki dalam memimpin klan.

Feodalisme yang jelas terlihat adalah wilayah-wilayah dan kekuasaan yang terbagi dalam klan-klan. Masing-masing klan memimpin dan bertanggung jawab terhadap kehidupan rakyat yang hidup di wilayah kekuasaannya. Petani-petani memberikan sebagian hasil panennya kepada penguasa klan. Kelas-kelas dalam masyarakat terbagi menjadi petani atau pekerja, prajurit dan ksatria.

Hidden = Kristen dan Kristenisasi

Sejak buku pertama, Lian Hearn mendeskripsikan ajaran kaum Hidden persis seperti ajaran kristen. Kaum Hidden, di mana Takeo lahir dan dibesarkan sampai remaja, mempercayai adanya Tuhan yang Satu dan tak kasat mata, tidak percaya kepada dewa-dewa, dan melakukan ritual doa setiap pagi. Mereka dilarang membunuh dan menyakiti diri sendiri dan orang lain. Ajaran mereka adalah kasih sayang dan melarang berperang. Tentu saja hal itu bertentangan dengan ajaran para ksatria pada jaman itu yang menganggap mati di medan perang, dan mati bunuh diri demi menjaga kehormatan adalah sebuah kebanggaan. Itulah alasan mengapa Iida Sadamu membantai kaum Hidden di Mino, desa tempat tinggal Takeo. Ajaran Hidden banyak dianut oleh para gelandangan dan rakyat biasa secara sembunyi-sembunyi.

Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya nama-nama penganut kaum Hidden yang digunakan Hearn ada kemiripan dengan nama-nama dalam Kristen. Tomasu, nama kecil Takeo, adalah ejaan bahasa Jepang untuk Thomas, salah satu orang suci atau Saint (St. Thomas) dalam kristen. Jo-An, terdengar sangat mirip dengan Joan, salah satu orang suci dalam ajaran kristen (St. Joan). Bahkan Jo-An, pada akhirnya dianggap oleh para gelandangan sebagai orang suci setelah mengorbankan dirinya demi keselamatan Takeo (sangat mirip dengan kisah pengorbanan St. Joan, bukan?)

Namun, anggapan tersebut tertepis di buku The Harsh Cry Of The Heron. Di sini, Hearn menambahkan latar masuknya ajaran kristen yang asli yang dibawa oleh orang-orang Barat ke Jepang lewat para pedagang dan missionaris. Tentu saja mereka tidak mudah untuk menyebarkan ajaran mereka. Benturan-benturan dengan ajaran pribumi –ajaran Houou yang mirip dengan ajaran Shinto– dan ajaran Sang Pencerah –yang mirip dengan ajaran Budha– tetap saja terjadi, meskipun Takeo telah menolelir setiap ajaran dan kepercayaan apapun yang dianut oleh rakyatnya. Bahkan, Takeo memilih untuk tidak menganut ajaran apapun.

Ninja Vs Samurai

Deskripsi tentang suku pembunuh Tribe dalam Kisah Klan Otori sangat mirip dengan Ninja, seni beladiri yang terkenal di Jepang. Dengan demikian, bisa dibilang, Kisah Klan Otori adalah sebuah kisah pertarungan abadi antara Ninja dengan Samurai. Ninja sebagai sebuah kelompok rahasia yang bergerak di bawah tanah, sedangkan Samurai adalah kelompok ksatria yang dekat dengan penguasa. Namun Hearn meramunya dengan hal-hal yang bersifat supranatural, fantasi dan mistis. Di sinilah letak perbedaan karya Hearn dengan karya-karya sejenis dari penulis lain.

Disebutkan bahwa setiap keturunan Tribe memiliki kemampuan istimewa yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Seperti halnya Takeo, ia memiliki kemampuan untuk membelah tubuhnya menjadi dua, mempunyai pendengaran yang tajam melebihi indra manusia, kemampuan meringankan tubuh dan menghilang, serta kemampuan bela diri lainnya. Demikian halnya dengan kedua anak kembarnya, Maya dan Miki, serta anak laki-lakinya, Hisao. Mereka memiliki kemampuan dalam memasuki dua dunia: dunia manusia dan dunia arwah.

Sementara di satu sisi, kaum ksatria, yang menjunjung tinggi kemampuan dari latihan keras, menganggap bahwa kaum Tribe adalah para penyihir. Otori Shigeru, meskipun ia berasal dari kaum ksatria, mampu melihat dengan jelas pertentangan kedua kutub ini. Namun, ia tidak terjebak di dalamnya, malahan dengan cerdas dan lihai mampu memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh Tribe untuk mewujudkan kedamaian. Ia dengan lihai merangkul Muto Kenji dan Muto Shizuka serta mendidik Takeo untuk membantunya mewujudkan keinginannya membawa kedamaian di Tiga Negara.

***

Secara keseluruhan, Lian Hearn berhasil membuat sebuah kisah epik yang menarik tentang masa-masa feodal kekaisaran Jepang. Ia berhasil menggabungkan antara fakta sejarah dengan kisah fantasi, supranatural, peperangan dan kisah cinta yang mendebarkan. Perjuangan Takeo dan Kaede untuk menyatukan cinta mereka meski banyak halangan dan tentangan, menjadi sebuah kisah percintaan yang sangat menyentuh. Intensitas Hearn dalam membangun karakter tokoh-tokohnya, akan membuat siapapun yang membaca Kisah Klan Otori dibawa untuk membenci atau menyukai tokoh-tokohnya. Sayangnya, banyak tokoh yang mengundang emosi dan simpati, pada akhirnya harus berakhir tragis, seperti halnya Otori Shigeru yang telah memikat pembaca sejak awal, kisahnya harus berakhir di separuh awal buku pertama. Namun, untuk mengobati keingintahuan para pembaca terhadap kisah Otori Shigeru, sebuah prequel Kisah Klan Otori, yakni Heaven’s Net Is Wide akan segera diluncurkan. Buku prequel ini berkisah tentang kehidupan Otori Shigeru sebelum menemukan Takeo.

Lian Hearn, hanyalah nama samaran yang digunakan oleh Gillian Rubinstein untuk menulis Kisah Klan Otori. Gillian Rubinstein, dengan nama aslinya telah menulis berpuluh-puluh novel dan cerita bergambar untuk anak-anak di antaranya adalah: The Whale’s Child (2002), Terra Farma (2001), The Mermaid of Bondi Beach (1999), Under The Cat’s Eye (1997) dan masih banyak yang lainnya. Ia menulis Kisah Klan Otori setelah dalam sebuah kesempatan berkunjung ke Jepang dan terpesona akan keunikan dan keragaman budayanya. Lewat karyanya ini, Hearn layak untuk disejajarkan dengan pengarang-pengarang kisah samurai Jepang seperti Eiji Yoshikawa dan Takashi Matsuoka. ***

http://jalaindra.multiply.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: